Data sedang dimuat..

Hewan Pengerat Di Rumah Sakit

01650869058.png

Hewan pengerat adalah hama yang membutuhkan hal-hal mendasar untuk bertahan hidup seperti makanan, air, dan tempat berlindung. Rumah sakit biasanya merupakan bangunan besar dan kompleks yang dapat menyediakan jaringan luas sudut dan celah terpencil bagi hewan pengerat untuk berkembang biak. Hama ini dapat masuk ke gedung melalui pintu, yang selalu terbuka di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya, dan melalui celah dan lubang yang sangat kecil. Hewan pengerat yang berada di fasilitas kesehatan sangat berbahaya karena hama ini dapat membawa penyakit dan merusak makanan dengan bakteri dan virus yang berada pada air liur dan kotoran hewan tersebut. Paparan patogen berbahaya bisa menjadi permasalahan baru bagi pasien yang sudah memiliki gangguan kesehatan. Selain terkadang membawa patogen yang dapat menyebabkan penyakit, hewan pengerat dapat meninggalkan kotoran. Selain itu, gigi  tajam yang berfungsi sebagai alat penggerus dapat menyebabkan kerusakan pada kemasan, produk, peralatan, dan struktur. Puing-puing dan semak-semak di sepanjang dinding rumah sakit harus dihilangkan untuk mencegah tempat persembunyian koloni hama yang memasuki menuju gedung, terutama selama bulan-bulan musim gugur dan musim dingin. Hama hewan pengerat sangat merugikan dalam bidang pertanian maupun kesehatan masyarakat karena dapat menimbulkan kerusakan ekonomi yang cukup besar terkait dengan kebiasaan makan di tempat umum dan tingkat reproduksi yang tinggi (Swanepoel et al., 2017).

Kerusakan yang ditimbulkan oleh hewan pengerat bisa sangat bervariasi, seringkali terjadi pada beberapa waktu, tidak merata dan sulit diprediksi (Fiedler et al., 1991). Banyak spesies hewan pengerat tidak aktif pada siang hari dan karenanya tidak mudah diamati oleh petani, penyuluh, atau peneliti. Musim kering yang panjang tidak mengurangi populasi hewan pengerat, namun mengubah pengaruh faktor-faktor yang biasanya membatasi jumlah mereka diantaranya pemangsaan, persaingan, dan penyakit. Dimulainya kembali musim hujan dapat menyediakan makanan, tempat berlindung, dan air yang berlimpah untuk hewan pengerat. Sehingga hal ini dapat meningkatkan laju reproduksi, kelangsungan hidup, dan penyebaran hama pengerat. Wabah hewan pengerat di Australia dan Hawaii yang melibatkan Mus musculus terjadi setelah kemarau panjang diakhiri dengan curah hujan normal (Tomich, 1986; Ramsey dan Wilson, 2000).

Ketika ketersediaan makanan kembali menurun, hewan pengerat yang masih hidup dapat mengalihkan jenis aktivitasnya ke area tanam (pertanian) (Jaksic dan Lima, 2003; Singleton et al., 2010).

Beberapa tindakan perlindungan dan pengendalian hama pengerat di rumah sakit diantaranya:

  1. Memperbaiki atau menutup semua retakan serta lubang berdiameter kecil atau besar, baik yang berada di dinding, pondasi, lantai, dan sebagainya.
  2. Memperbaiki jendela dan pintu yang rusak dengan memastikan segel pintu tertutup rapat pada jenis bangunan yang berpenghuni (atau ruangan yang terdapat pasien)
  3. Tikus dapat masuk ke rumah sakit melalui celah yang cukup untuk tubuh mereka, pengendalian dengan menutup akses jalan tersebut sangat penting untuk dilakukan
  4. Rumah sakit besar biasanya memiliki tempat makanan seperti kantin atau bahkan rumah makan sendiri. Jenis lokasi ini harus memiliki pedoman kebersihan yang ketat dengan memastikan tidak ada sisa atau sampah yang dapat diakses oleh hewan pengerat
  5. Kamar pasien harus dibersihkan secara berkala, terutama jika pasien memasuki jadwal makan di kamar masing-masing. Pengunjung yang menjenguk pasien harus memastikan tidak meninggalkan makanan atau minuman yang dapat mengundang hama pengerat
  6. Seluruh tempat sampah harus memiliki penutup yang tertutup rapat serta pembersihan dan pengambilan sampah harus dilakukukan beberapa kali dalam sehari
  7. Memperhatikan fasilitas air karena hama pengerat dapat mengakses air pada beberapa jenis tempat, termasuk di rumah sakit
  8. Menjaga dan memperhatian kebersihan lingkungan rumah sakit dengan secara teratur (Desoky, 2019).

 

REFERENSI

Desoky, A. E. A. S. S. (2019). Rodent Control Strategies in Hospitals. International Journal of Research in Agriculture and Forestry Volume 6, Issue 3, 2019, PP 7-8. Plant protection Department (Agriculture Zoology), Faculty of Agriculture, Sohag University, Egypt.

Fiedler, L.A. (1988) Rodent pest problems and management in eastern Africa. FAO Plant

Protection Bulletin 36,125-134.

Jackson, W. B. (1977) Evaluation of rodent depredations to crops and stored products. EPPO Bulletin 7, 439-458

Ramsey, D.S.L., Wilson, J.C.  (2000) Towards ecologically based baiting strategies for rodents in agricultural systems.  International Biodeterioration & Biodegradation 45, 183-197.

Singleton, G. R.  (1994)  The prospects and associated challenges for the biological control of rodents.  Vertebrate Pest Conference 16:301-307.

Swanepoel LH, Swanepoel CM, Brown PR, Eiseb SJ, Goodman SM, Keith M, et al. (2017) A systematic review of rodent pest research in Afro-Malagasy small-holder farming systems: Are we asking the right questions. PLoS ONE 12(3): e0174554. pmid:28358899

Tomich, P.Q. (1986) Mammals in Hawaii, 2nd edn. Bishop Museum Press, Honolulu, Hawaii, United States.

 

Kenapa harus kami? Karena kami di dukung oleh para tenaga ahli yang menguasai permasalahan hama di perkotaan (Urban Pest) dan pertanian yang banyak memiliki pengalaman penelitian skala nasional dan internasional dan juga banyak pengalaman praktis dan banyak memberikan berbagai pelatihan, seminar dan konsultansi.

Tanya sekarang +6281313538831