Harap tunggu..

Hama Gudang yang Menyerang Padi Pascapanen

01652172702.jpg

Beras merupakan salah satu makanan pokok masyarakat Indonesia dan lebih dari setengah populasi dunia. Sehingga, kebutuhan akan beras ini akan terus meningkat seiring pertambahan jumlah populasi manusia. Oleh karena itu, ketersediaan beras dengan kualitas dan kuantitas yang mencukupi menjadi sangat penting untuk menunjang kebutuhan pangan. Untuk dapat menghasilkan biji beras, serangkaian proses dilakukan dari mulai penanaman benih hingga pemanenan padi (Prasad et al., 2014). Pascapanen padi meliputi proses pemanenan hasil dan pemrosesan gabah hingga menghasilkan produk akhir yakni beras yang siap digunakan oleh konsumen. Pada saat pascapanen pun, hasil panen akan disimpan didalam gudang. Proses ini memungkinkan terjadinya penurunan kualitas dan kuantitas dari padi yang disimpan (Syarief & Halid, 1993). Selain itu, serangan serangga hama ini juga dikaitkan dengan kontaminasi mikotoksin melalui distribusi inokula jamur dan penciptaan kondisi yang mendukung pertumbuhan dan proliferasi jamur selama penyimpanan (Milani, 2013). Indonesia berada di wilayah Asia Tenggara yang memiliki iklim tropis dan lembab, hal ini menyebabkan kerusakan pascapanen padi yang diakibatkan oleh hama sebesar 5-15%. Hama gudang ini akan menyebabkan padi menjadi kotor, berbau, berjamur, berlubang, dan lainnya (Hayasi, 2003).

 

Hama yang menyerang padi dalam tempat penyimpanan merupakan hama yang termasuk ke dalam golongan hama primer dan sekunder. Hama primer akan menyerang bulir padi yang masih utuh, seperti contohnya adalah Sitotroga cerealella yang meletakkan telurnya pada bulir padi. Sebagian besar larva serangga merupakan golongan hama primer karena dapat memakan embrio dan endosperm padi dari bagian dalam bulir, hal ini menyebabkan kandungan nutrisi dalam padi akan berkurang serta menurunkan presentase padi yang bekecambah. Serangga yang masuk ke dalam kategori hama primer antara lain Rhyzopertha dominica, Sitophilus granarius dan Sitophilus oryzae. Kemudiah hama sekunder yakni hama yang menyerang bulir padi yang te;ah rusak akibat serangan hama primer atau karena kerusakan lainnya. Serangga yang masuk ke dalam kategori ini antara lain, Tribolium castaneum, Tribolium confusum, Oryzaephilus surinamensis, dan Trogoderma variable (Syarief & Halid, 1993).

Terdapata beberapa faktor yang mendukung infestasi hama pada gudang penyimpanan padi, meliputi a) faktor makanan (kualitas dan kadar air), dan b) faktor iklim (kelembaban, temperatur, aerasi, dan cahaya). Ketersediaan makanan yang cukup sangat berpengaruh pada perkembangbiakan hama dan juga penopang tingkat hidup yang aktif, terutama pada proses peneluran dan stadium larva. Spesies hama gudang memiliki siklus hidup yang pendek 4-6 minggu dan bersifat universal dalam selera makanan mereka. Suhu optimum untuk sebagian besar serangga penyimpanan sekitar 25oC-30oC pada 75% kelembapan relatif, oleh karena itu Indonesia yang beriklim tropis sangat cocok bagi tempat tinggal sebagian besar serangga hama gudang penyimpanan (Yasin, 2009).

 

Diantara metode pengendalian serangga hama di gudang penyimpanan, terdapat dua pengelolaam yang penting untuk membantu mengurangi infestasi hama dan kemungkinan kerusakan pada padi, yakni ketahui sumber infestasi dan distribusi dari hama, kemudian dilakukan pemantauan dan pendeteksian, dan prosedur pengendalian.

 

Sumber infestasi dan distribusi

Serangga hama umumnya menginfestasi gudang penyimpanan melalui celah sempit pada dinding, peralatan dalam gudang, dan pintu, atau terbawa pada saat proses pemindahan padi ke dalam gudang. Selain itu, serangga juga berasal dari bulir padi yang terserang di luar gudang (Syarief & Halid, 1993)..

 

Pemantauan dan pendeteksian

Pemantauan dan pendeteksian merupakan langkah penting dalam pengendalian hama, yang dilakukan secara rutin dan teratur dengan mengikuti prosedur baku atau disesuaikan dengan kebutuhan. Penemuan hama ini akan menjadi dasar pengendalian dan gambaran untuk langkah selanjutnya seperti sanitasi dan eradikasi (Emery, 2005). Tujuan dari pemantauan dan pendeteksian ini adalah untuk mengetahui secara pasti mengenai jenis hama, status hama, sumber infestasi, dan kemungkinan portal entry (Koehler, 2003).

Prosedur pengendalian

Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan kualitas beras agar sesuai dengan mutu dan aman dikonsumsi. Sehingga lebih baik tindakan pencegahan menjadi sangat diutamakan. Higienitas dan sanitasi di gudang penyimpanan sangat penting untuk mencegah infestasi hama, hal ini dapat dilakukan dengan:

  • Lantai/halaman penyimpanan harus bersih, bebas dari serangan serangga dan jauh dari sekitar desa/lumbung.
  • Bersihkan mesin pemanen dan perontok sebelum digunakan.
  • Truk, troli atau gerobak yang digunakan untuk mengangkut beras harus bebas dari serangan serangga.
  • Bersihkan struktur penyimpanan/gudang sebelum penyimpanan tanaman yang baru dipanen.
  • Semua kotoran, sampah, sapuan dan anyaman harus dikeluarkan dari gudang dan dibuang.
  • Semua retakan, celah, lubang yang ada pada lantai, langit-langit harus diplester secara permanen dengan lumpur atau semen.
  • Beras yang akan disimpan harus bebas dari kotoran
  • Memasang penghalang fisik seperti kawat
  • Gabah atau beras yang akan disimpan harus melalui proses pengeringan agar meminimalisir kelembaban yang akan mengundang jamur ataupun hama lainnya
  • Pengaturan suhu dan kelembaban
  • Penggunaan insektisida menjadi pilihan terakhir.

 

Referensi

Emery, R. (2005). Control of stored food insects. Dept. of agriculture.

Hayasi, T. (2003). Control of stored product insect pest using natural enemies. Jircas newsletter.

Koehler, P. G. (2003). Management of stored grain and peanut pests.

Milani, J. M. (2013). Ecological conditions affecting mycotoxin production in cereals: a review. Vet. Med. 58, 405-411.

Prasad, R., Shivay, Y. S., & Kumar, D. (2014). Agronomic biofortification of cereal grains with iron and zinc, Chapter two. Adv. Agron. 125, 55-91.

Syarief, R., & Halid, H. (1993). Teknologi penyimpanan pangan. Jakarta: Penerbit Arcan.

Yasin, M. (2009). Kemampuan akses makan serangga hama kumbang bubuk dan faktor fisikokimia yang mempengaruhinya. Prosiding seminar nasional serealia.

Kenapa harus kami? Karena kami di dukung oleh para tenaga ahli yang menguasai permasalahan hama di perkotaan (Urban Pest) dan pertanian yang banyak memiliki pengalaman penelitian skala nasional dan internasional dan juga banyak pengalaman praktis dan banyak memberikan berbagai pelatihan, seminar dan konsultansi.

Tanya sekarang +6281313538831