Mengenal Tungau: Penyebab Scabies yang Tersembunyi

Mengenal Tungau: Penyebab Scabies yang Tersembunyi
06
Senin, 6 Mei 2024

Tungau, hewan kecil yang sering kali menjadi penyebab penyakit scabies atau kudis, memiliki siklus hidup yang cukup rumit. Mereka berkembang biak di permukaan kulit sebelum masuk ke dalam kulit untuk bertelur, yang kemudian menyebabkan rasa gatal yang tidak tertahankan.

Penyebaran tungau penyebab kudis tidak terbatas pada wilayah tertentu, mereka dapat ditemukan di seluruh dunia dan dapat bertahan dalam berbagai kondisi iklim. Namun, sering kali, tungau ini disamakan dengan hewan lain seperti kutu busuk dan pinjal, padahal mereka memiliki perbedaan yang signifikan.

Tungau, sebagai anggota kelas Arachnida yang dekat dengan laba-laba, memiliki ciri khas berupa delapan kaki. Sedangkan pinjal, meskipun juga kecil, termasuk dalam kelas Insecta dan memiliki bentuk yang lebih ramping.

Sedangkan kutu busuk, meskipun dalam kelas yang sama dengan pinjal, termasuk dalam ordo yang berbeda, yaitu Hemiptera. Membedakan ketiganya penting karena mereka memiliki siklus hidup, habitat, dan karakteristik yang berbeda.

Selain itu, ada beberapa spesies tungau yang dapat menjadi parasit bagi manusia, hewan mamalia seperti kucing dan anjing, bahkan pada tumbuhan. Di antara spesies tersebut, yang paling terkenal adalah Sarcoptes scabiei, Dermatophagoides farinae, dan D. pteronyssinus.

Hewan Mungil Penyebab Scabies

Sarcoptes scabiei, atau yang lebih dikenal sebagai tungau scabies, merupakan spesies yang sering menjadi parasit pada manusia. Tungau ini menyebabkan penyakit yang umumnya dikenal sebagai scabies atau kudis.

Siklus hidup Sarcoptes scabiei meliputi empat tahap, yaitu telur, larva, nimfa, dan dewasa. Tungau betina biasanya bertelur sekitar 2-3 telur per hari, yang kemudian menetas menjadi larva setelah 3-4 hari. Setelah itu, larva berubah menjadi nimfa dengan 4 pasang kaki, sebelum akhirnya menjadi dewasa.

Tungau dewasa memiliki bentuk bulat, menyerupai kantung, dan tidak memiliki mata. Tungau betina yang telah kawin akan menggali masuk ke dalam kulit untuk bertelur, dan mereka dapat hidup selama 1-2 bulan setelah itu. Sekitar 10% telur yang diletakkan oleh tungau betina dapat berkembang menjadi tungau dewasa dalam kondisi yang mendukung.

Proses infeksi scabies dimulai ketika tungau tertarik pada inangnya melalui bau dan panas tubuh. Mereka dapat menemukan inang baru meskipun sudah jatuh dari inang sebelumnya, sehingga meningkatkan risiko penyebaran infeksi.

 

Setelah berada di kulit, tungau mengeluarkan cairan yang melarutkan bagian pelindung kulit manusia, stratum korneum, sehingga mereka dapat menggali dan membentuk terowongan di mana mereka tinggal dan bertelur. Hal inilah yang akhirnya memicu respons imun tubuh, yang menyebabkan rasa gatal dan ruam yang merupakan ciri khas dari infeksi scabies.

Konsultasikan Kebutuhan Anda